IEDE NEWS

AS Serahkan Bukti ke ICC Mengenai Kejahatan Perang Rusia

Iede de VriesIede de Vries
Amerika Serikat akan menyerahkan bukti kepada Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) di Den Haag terkait dugaan kejahatan perang yang dilakukan Rusia dalam perang di Ukraina. Tugas ini diberikan langsung oleh Presiden Joe Biden.

Karena AS tidak mengakui ICC dan sejauh ini tidak bekerja sama dengannya, media Amerika menyebut inisiatif ini sebagai ā€œbersejarahā€.

ICC sebagian besar didanai oleh kekuatan Barat, terutama Uni Eropa, dan juga tidak diakui oleh China dan Rusia

Presiden Rusia Putin menghadapi surat perintah penangkapan dari ICC atas deportasi ilegal anak-anak Ukraina. 

Gedung Putih belum mengonfirmasi keputusan untuk bekerja sama dengan ICC. Pentagon AS dilaporkan menentang keputusan ini karena khawatir dapat membuka peluang bagi penuntutan tentara Amerika atas kejahatan perang, misalnya di Irak. 

Uni Eropa telah memutuskan untuk memperpanjang sanksi terhadap sekitar 1.800 warga Rusia yang menurut Barat turut bertanggung jawab atas perang terhadap Ukraina. Mereka mayoritas adalah anggota elit pemerintahan dan militer Rusia. Kekayaan mereka juga dibekukan. 

UE juga memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Rusia, yang melarang negara-negara Eropa berbisnis dengan sektor-sektor tertentu Rusia. Sanksi ini telah diperpanjang minggu lalu hingga awal 2024.

Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) telah menemukan ā€˜beberapa ranjau anti-personel’ di lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizja di Ukraina, yang diduduki oleh pasukan Rusia. Pembangkit listrik nuklir Zaporizja direbut oleh tentara Rusia pada Maret tahun lalu.

Bahan peledak tersebut berada di zona yang dilarang untuk staf pembangkit nuklir. Jumlah pasti ranjau tersebut belum diumumkan oleh IAEA.

Artikel ini ditulis dan diterbitkan oleh Iede de Vries. Terjemahan dihasilkan secara otomatis dari versi bahasa Belanda asli.

Artikel terkait