Perusahaan daging asal Denmark, Danish Crown, mencari pasar baru di Afrika untuk pemasaran daging babi, sementara perusahaan tersebut menutup salah satu fasilitasnya di China akibat penurunan impor. Perusahaan ini juga menghadapi tekanan dari persaingan yang meningkat di pasar Eropa.
Danish Crown mengumumkan penjualan fasilitasnya di Pinghu, China, sebagaimana dilaporkan oleh dua majalah profesional Skandinavia dan Denmark, ScanAsia dan Foodorg. Keputusan ini diambil karena penurunan struktural dalam permintaan daging babi impor di China. Pergeseran ke produk babi yang diproduksi secara lokal telah merusak profitabilitas fasilitas tersebut.
Penutupan ini mencerminkan tren yang lebih luas dari perubahan dinamika pasar di Asia. Penutupan fasilitas di China ini dapat membantu Danish Crown membebaskan sumber daya untuk investasi di Afrika. Penjualan fasilitas di Pinghu diperkirakan akan berkontribusi pada restrukturisasi kegiatan internasional perusahaan.
Afrika dianggap oleh Danish Crown sebagai pasar pertumbuhan yang menjanjikan. Perusahaan melihat peluang dalam meningkatnya permintaan akan sumber protein terjangkau di negara-negara Afrika yang sedang berkembang. Menurut para analis, Danish Crown secara khusus menargetkan negara-negara dengan populasi urban yang berkembang dan kelas menengah yang meningkat.
Salah satu alasan fokus pada Afrika adalah meningkatnya persaingan di pasar Eropa. Danish Crown ingin mengatasi kondisi pasar tersebut sebagian dengan melakukan diversifikasi ke pasar di luar Eropa. Perusahaan menekankan bahwa keberhasilan di Afrika akan bergantung pada kemampuan untuk menawarkan produk dengan harga terjangkau dan efisiensi logistik. Kerjasama dengan mitra lokal sedang dipertimbangkan untuk memperkuat posisi di wilayah tersebut.
Walaupun pasar Afrika menawarkan peluang pertumbuhan yang signifikan, terdapat pula risiko. Kondisi ekonomi yang bervariasi dan tantangan logistik merupakan hambatan potensial. Danish Crown sadar akan risiko ini, namun menegaskan bahwa potensi pasar Afrika cukup besar untuk dihadapi.
Di dalam negeri, Danish Crown menghadapi kenyataan bahwa beberapa peternak babi terbesar telah meninggalkan perusahaan. Hal ini memperkuat kebutuhan untuk mengembangkan ekspor lebih lanjut. Pimpinan Danish Crown mengakui bahwa mempertahankan hubungan dengan produsen besar sangat penting untuk jangka panjang.

