Kedua diplomat Belanda tersebut harus meninggalkan Israel dalam waktu satu minggu. Salah satunya terhubung dengan kedutaan Belanda di Tel Aviv, sedangkan yang lain bekerja di kantor Belanda di Ramallah. Keduanya bekerja di pusat dukungan internasional Gaza di Kirjat Gat, yang terlibat dalam upaya internasional terkait Gaza.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengajukan pengusiran tersebut sebagai respons terhadap serangkaian tindakan Belanda yang dianggap Israel "anti-Israel." Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menyetujui langkah tersebut. Baik Belanda maupun Amerika Serikat telah diberitahu mengenai keputusan ini.
Boikot Impor
Salah satu pemicu konkret adalah kebijakan perdagangan Belanda yang melarang impor produk dari permukiman Israel yang ilegal. Belanda tidak berencana mencabut kebijakan tersebut meskipun terjadi pengusiran diplomat. Menteri Tom Berendsen menyatakan rasa menyesal atas pengusiran itu kepada rekannya dari Israel dan menyebutnya tidak perlu.
Promotion
Selain itu, terdapat konflik Belanda-Israel mengenai Tepi Barat. Belanda telah menyatakan penolakan terhadap proyek pembangunan kontroversial Israel di Yerusalem Timur dan menentang langkah-langkah lanjutan untuk melaksanakan proyek tersebut. Konfrontasi diplomatik ini berlangsung secara bersamaan di berbagai bidang.
Festival Lagu
Di luar hubungan diplomatik langsung, bentrokan dengan Israel juga meningkat. Asosiasi penyiar publik AvroTros telah memutuskan bahwa Belanda pada tahun 2027 kembali tidak akan berpartisipasi dalam Kontes Lagu Eurovision. Penyiar mengaitkan keputusan tersebut dengan perang dan situasi kemanusiaan di Gaza serta partisipasi Israel.
Ini akan menjadi tahun kedua berturut-turut Belanda absen. Pada 2026, Belanda memboikot festival itu bersama dengan Spanyol, Irlandia, Islandia, dan Slovenia karena keikutsertaan Israel. Ini menjadi boikot politik terbesar dalam sejarah Kontes Lagu Eurovision.
Menurut direktur Avrotros, Taco Zimmerman, konflik internasional semakin memengaruhi festival dan melemahkan karakter netralnya. Eurovision menurutnya telah menjadi platform untuk perpecahan. Penyiar Belanda menganggap bahwa dalam kondisi saat ini, acara tersebut tidak lagi bisa dianggap netral.

