Jumlah hewan yang terluka dan mati akibat serangan serigala di Jerman tahun lalu meningkat sebesar 37% menjadi 3.959 hewan. Dengan demikian, dalam waktu kurang dari dua tahun, jumlah kasus serangan serigala hampir dua kali lipat.
Menurut data terbaru, tahun lalu di Jerman terdapat 128 kelompok serigala, 39 pasangan serigala, dan 9 serigala individu. Pejabat lingkungan dari Serikat Petani Jerman (DBV) Eberhart Hartelt mengkritik keras semakin meningkatnya gangguan akibat serigala.
Terutama negara bagian Brandenburg, Mecklenburg-Voor-Pommeren, dan Niedersachsen yang paling terdampak oleh serigala. Domba paling sering dibunuh oleh serigala, sebanyak 3.444 pada tahun 2020, diikuti oleh satwa liar (248), sapi (153), dan kambing (92). Namun juga 13 kuda, 7 alpaka, dan 2 anjing penggembala menjadi korban serigala.
Data baru ini diperkirakan akan memberikan dampak signifikan pada penggembalaan di Jerman, menurut DBV. "Statistik baru ini menandai akhir penggembalaan. Populasi serigala harus segera diatur. Jika tidak, pemeliharaan domba, kambing, kuda, dan sapi di padang rumput akan menjadi usang," jelas Hartelt.
Di Jerman, perdebatan tentang keberadaan serigala sering kali memanas. Calon pemimpin CDU Armin Laschet ingin agar Uni Eropa mencabut larangan berburu serigala di kawasan pertanian, guna melindungi ternak yang sedang merumput. Di Swiss, beberapa kanton baru-baru ini telah mengeluarkan izin berburu serigala.
Dua bulan lalu di Belanda, mantan Komisaris Ratu Friesland Hans Wiegel (VVD) telah memulai pembangunan pagar anti serigala di lahan rumput dan pertanian di sepanjang kawasan alam Drents-Friese Wold. Lima petani menyediakan tanah mereka untuk proyek percontohan tersebut. Pagar ini diperkirakan sepanjang sekitar 3 kilometer.
Pagar setinggi 1,5 meter yang terbuat dari kawat domba yang kuat ini dirancang agar satwa liar lain seperti kelinci dan rusa tetap bisa melewati atau melompatinya. Jaring kelinci di bagian atas pagar berfungsi mencegah rusa terjerat kakinya saat melompati pagar.

