IEDE NEWS

Ekspor UE ke Afrika dan Timur Tengah Meningkat, Turun ke AS

Iede de VriesIede de Vries
Foto oleh chuttersnap di Unsplash — Foto: Unsplash

Dalam sebelas bulan pertama tahun lalu, 27 negara UE mengekspor produk pertanian dan makanan sedikit lebih banyak, dengan nilai 168,5 miliar euro. Dengan ini, surplus perdagangan pertanian mencapai 56,2 miliar euro, naik 2%.

China tetap menjadi pasar pertumbuhan utama untuk ekspor pertanian dan makanan UE. Permintaan terhadap daging babi, gandum, dan makanan bayi berkontribusi pada kenaikan nilai ekspor total sebesar 3,71 miliar euro.

Produk biji-bijian dan susu meningkatkan nilai ekspor ke Timur Tengah dan Afrika Utara, terutama ke Arab Saudi (+577 juta euro), Aljazair (+444 juta euro), dan Maroko (+412 juta euro).

Nilai ekspor UE ke AS justru turun sebesar 496 juta euro, yang terutama berdampak pada minuman beralkohol distilasi dan anggur. Nilai ekspor UE juga menurun ke Singapura (-357 juta euro) dan Jepang (-307 juta euro).

Ekspor UE ke Britania Raya justru mengalami kenaikan ringan sebesar 15 juta euro dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Terutama ekspor gandum, pasta, dan kue dari UE mendapatkan manfaat, sementara penjualan anggur, minuman keras, likuer, dan unggas menurun.

Kanada tetap menjadi sumber impor produk pertanian dan makanan bagi UE yang terus tumbuh, meningkat 854 juta euro, terutama berkat biji canola dan gandum keras.

Impor dari Brasil naik sebesar 618 juta euro, didorong oleh kedelai, sementara minyak sawit meningkatkan impor dari Indonesia (+587 juta euro) dan Malaysia (+490 juta euro). Sebaliknya, nilai impor dari Ukraina (-806 juta euro), AS (-698 juta euro), dan India (-244 juta euro) menurun.

Artikel ini ditulis dan diterbitkan oleh Iede de Vries. Terjemahan dihasilkan secara otomatis dari versi bahasa Belanda asli.

Artikel terkait