IEDE NEWS

Kritik Eropa terhadap Kamp Pengungsi Yunani yang Terlalu Penuh

Iede de VriesIede de Vries
SAR oleh kapal Islandia Tyr, Operasi Triton 2015

Komisaris Hak Asasi Manusia Dewan Eropa, Dunja Mijatovic, pekan lalu kembali membunyikan alarm mengenai penanganan pengungsi kapal di pulau-pulau Yunani dekat pantai Turki. Setelah kunjungan lima hari ke pulau Lesbos dan Samos, dia menyatakan terkejut oleh kondisi mengerikan di mana ribuan orang tinggal di sana. Athena menerima teguran atas 'situasi eksplosif' di kamp-kamp di pulau-pulau tersebut.

Mijatovic menyerukan pemerintahan sayap kanan baru Yunani untuk segera mengambil langkah. Di kamp-kamp tersebut terjadi kekurangan besar dalam perawatan medis. Orang-orang harus menunggu berjam-jam untuk bisa menggunakan toilet atau mendapatkan makanan. Dalam beberapa bulan terakhir, di pulau-pulau Yunani di Laut Aegea terdapat peningkatan kedatangan pengungsi. Kamp-kamp penampungan tidak mampu menampung arus tersebut dan menjadi terlalu padat. Lebih dari 34.000 orang menunggu (beberapa sudah bertahun-tahun!) proses pengajuan suaka mereka, sementara kapasitas hanya untuk 6.300 migran.

Hal ini pula yang memicu kembali perdebatan tentang migrasi di Yunani. Di antara penduduk Yunani, kebencian terhadap orang asing meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dan dalam pemilihan umum baru-baru ini, partai kanan populis ND meraih mayoritas dan menggulingkan pemerintah kiri Syriza. Selain itu, dalam beberapa bulan terakhir negara itu kembali menjadi pintu gerbang utama ke Eropa bagi pengungsi. Sebelumnya, Spanyol dan Italia telah mengambil peran tersebut.

Arus migrasi yang meningkat membebani pemerintah Yunani yang baru dengan berbagai masalah. Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis mendapat lampu hijau dari parlemen pada Jumat lalu setelah rapat maraton untuk undang-undang suaka baru. Undang-undang ini memberi otoritas kemampuan untuk mempercepat proses pengurusan suaka. Selain itu, pemerintah dapat lebih cepat mengirim pulang migran yang tidak memenuhi syarat perlindungan internasional ke Turki. Yunani kini memberikan suaka dengan lebih ketat terhadap migran.

Dalam debat di parlemen Yunani, Perdana Menteri konservatif Mitsotakis beberapa kali bersitegang dengan pendahulunya, Alexis Tsipras yang berasal dari kiri radikal. Pemimpin Syriza menuduh penggantinya menyebarkan 'retorika ekstremis' dan kebohongan soal 'kebijakan migrasi yang terlalu longgar' dari pemerintahan Syriza sebelumnya.

Mitsotakis mengatakan bahwa Yunani tidak bisa menampung puluhan ribu pengungsi tanpa sistem yang efisien. Undang-undang ini memberikan kami alat untuk melindungi pengungsi tetapi mencegah kami membuka pintu lebar-lebar untuk semua orang, ujarnya.

Tim Mitsotakis juga mendapat kritik dari organisasi bantuan dalam beberapa pekan terakhir terkait kebijakan migrasi mereka. Salah satunya adalah rencana untuk mengembalikan sekitar 10.000 pencari suaka ke Turki pada akhir tahun ini yang menuai kritik. Meski begitu, pemerintah Yunani melanjutkan pemindahan migran dari kamp-kamp penampungan yang terlalu padat di pulau-pulau. Akhir pekan ini sekitar 800 migran dari Lesbos akan dipindahkan ke daratan Yunani dan bakal ditempatkan di hotel-hotel yang kebanyakan kosong karena musim liburan telah berakhir.

Pemerintah Yunani berencana memindahkan 5.000 migran dari pulau-pulau ke daratan dalam dua minggu ke depan. Di kamp Moria di Lesbos saja tinggal hampir 15.000 migran, padahal kapasitas hanya 3.000. Awal September pemerintah Yunani mengumumkan langkah-langkah karena kepadatan berlebih di kamp pengungsi, yang juga diwarnai kekerasan. Ada juga masalah besar pada tempat tinggal, layanan medis, dan kebersihan.

Hampir 44.000 orang telah tiba tahun ini melalui laut dari Turki ke Yunani. Sebagian besar berasal dari Afghanistan atau Suriah.

Artikel ini ditulis dan diterbitkan oleh Iede de Vries. Terjemahan dihasilkan secara otomatis dari versi bahasa Belanda asli.

Artikel terkait