Langkah ini menargetkan impor biji-bijian, biji minyak, dan produk turunannya dari Rusia dan Belarusia, sebagai upaya mengurangi sumber pendapatan Rusia yang digunakan untuk membiayai perang melawan Ukraina. Tarif terbaru ini diperkirakan akan berdampak lebih lanjut pada “kemampuan Rusia untuk melancarkan perang agresi terhadap Ukraina”.
Kenaikan bea impor pupuk juga bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pasokan makanan Eropa terhadap bahan baku asal Rusia. Bea ini tidak berlaku untuk barang yang transit ke negara-negara Afrika dan Asia, karena UE tidak ingin mengancam pasokan makanan di kawasan tersebut.
Langkah ini masih harus disetujui oleh Dewan Menteri negara-negara UE dan Parlemen Eropa. Mereka sebelumnya sudah menyetujui langkah serupa. Hanya Hongaria yang mendukung Rusia yang menolak, tetapi tidak dapat menggagalkan keputusan ini.
Selama bertahun-tahun, Eropa bergulat dengan produksi pupuk yang tidak mencukupi untuk memenuhi permintaan, sehingga impor menjadi tak terhindarkan. Situasi ini makin memburuk setelah beberapa pabrik pupuk di negara-negara anggota UE ditutup.
Organisasi gabungan agraris Eropa Copa-Cosega memahami alasan geopolitik yang diajukan Komisi, namun mengingatkan bahwa sektor pertanian harus menghadapi dampak ekonominya. Langkah ini diperkirakan dapat menaikkan harga pupuk setidaknya €40-45 per ton untuk musim tanam mendatang.
Komisaris perdagangan UE, Maros Sefcovic, mengatakan bahwa tarif tersebut disusun dengan cermat untuk melayani beberapa tujuan sekaligus. "Tujuan kami adalah melemahkan lebih jauh ekonomi perang Rusia, sekaligus mengurangi ketergantungan UE, mendukung industri kami, dan mempertahankan ketahanan pangan global," demikian kutip pernyataannya.
Sefcovic berjanji akan mengambil “semua langkah yang diperlukan untuk melindungi industri pupuk Eropa dan para petani kami”.

