IEDE NEWS

NATO dengan atau tanpa AS atau Turki: mati otak atau tetap berhati-hati …

Iede de VriesIede de Vries
Foto oleh Samuel Penn di UnsplashFoto: Unsplash

Bagi sekretaris jenderal NATO, Jens Stoltenberg, masih terlalu dini untuk memberikan pernyataan mengenai kesepakatan yang baru-baru ini dicapai antara Turki dan Rusia tentang wilayah utara Suriah. Masalah ini akan dibahas secara luas hari ini dan besok dalam KTT paruh tahunan NATO yang kali ini diselenggarakan di London.

Turki telah sepakat dengan Rusia bahwa kedua negara akan bersama-sama mengambil kendali atas wilayah utara Suriah, setelah Amerika Serikat menarik pasukan daratnya. “Saya pikir masih terlalu dini untuk menilai dampak dari pernyataan tersebut, yaitu kesepakatan antara Presiden Erdogan dan Presiden Putin,” kata Stoltenberg dalam sebuah sesi pra-pertemuan para menteri pertahanan.

Pendekatan Turki, sekutu NATO, yang semakin mendekat kepada Rusia menimbulkan keprihatinan besar bagi negara-negara NATO lainnya, terutama karena Turki sebelumnya juga telah memasuki wilayah utara Suriah atas inisiatif sendiri tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan mitra-mitra lainnya.
Stoltenberg berupaya meredakan ketegangan dan kembali menyambut baik kesepakatan terbaru yang dicapai Turki dengan Amerika Serikat tentang gencatan senjata setelah invasi Turki ke utara Suriah. Menurut Stoltenberg, kesepakatan tersebut telah menyebabkan penurunan besar dalam tingkat kekerasan. Ia menyebut kesepakatan itu sebagai “sesuatu yang bisa kita bangun bersama”.

NATO sejauh ini belum mengutuk operasi militer Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terhadap milisi Kurdi di Suriah. Para Kurdi ini sebelumnya adalah sekutu NATO dalam melawan kelompok teroris Negara Islam (IS). Stoltenberg menolak mengutuk intervensi Turki pekan lalu.

KTT NATO juga akan dikuasai oleh kritik terbaru (kembali) dari Prancis terhadap Amerika Serikat. Presiden Prancis Macron mengatakan bahwa negara-negara Eropa lebih baik tanpa AS dalam NATO. Macron bahkan menyebut NATO sebagai ‘mati otak’.

Kanselir Jerman Angela Merkel memberikan tanggapan bahwa ia tidak sependapat dengan pandangan Macron tentang NATO. “NATO tetap menjadi batu penjuru keamanan kita,” ujar Merkel. Meskipun Macron puas dengan komunikasi antar tentara negara-negara NATO dan operasi bersama, menurutnya saat ini telah tiba waktunya mengakui bahwa NATO “mengalami masalah strategis dan politik”.

Artikel ini ditulis dan diterbitkan oleh Iede de Vries. Terjemahan dihasilkan secara otomatis dari versi bahasa Belanda asli.

Artikel terkait