Von der Leyen berbicara pada Senin siang di konferensi tahunan duta besar UE di Brussel tentang kebutuhan perubahan dalam kebijakan luar negeri UE. Dia menekankan bahwa situasi geopolitik saat ini menuntut revisi terhadap institusi dan proses pengambilan keputusan yang ada.
Von der Leyen mempertanyakan apakah ketergantungan politik pada konsensus dan kompromi membantu atau malah menghambat UE dalam mengambil keputusan. Para kritikus UE sudah lama mengatakan bahwa persyaratan untuk mencapai unanim dalam banyak masalah justru menghambat pengambilan keputusan. Dengan masalah keterlambatan, seperti pemblokiran pinjaman sebesar €90 miliar kepada Ukraina oleh Hongaria dan Slowakia, dia mengilustrasikan poinnya.
Panggung Dunia
Dia mengemukakan bahwa UE harus mempertanyakan apakah sistemnya masih efektif dalam dunia saat ini dan perubahan radikal diperlukan untuk menguatkan posisi UE sebagai pemain geopolitik. Seruannya untuk refleksi tersebut muncul sebagian karena meningkatnya konflik dan peperangan, seperti yang terjadi di Ukraina dan Timur Tengah.
Promotion
Melalui seruannya ini, Von der Leyen menggambarkan langkah awal sebelum konferensi puncak kepala negara dan pemerintahan UE yang akan berlangsung dalam satu setengah minggu. Dia menyatakan bahwa UE tidak bisa lagi mundur dari tantangan dunia.
Kaja Kallas, kepala urusan luar negeri UE, mendukung pesan ini dan mendesak percepatan perluasan UE agar negara-negara anggota baru seperti Ukraina dan Montenegro dapat diterima. Kallas melihat perluasan sebagai hal krusial dalam melawan pengaruh Rusia.
Kewenangan
Seruan Von der Leyen dipandang oleh para kritikus sebagai upaya sang kepala UE untuk memperoleh kewenangan atas posisi internasional UE. Urusan ini terutama dikelola oleh komisaris luar negeri Kallas. Dan dukungan kepada Ukraina juga terutama berada di tangan komisaris lain.
Menghadapi konflik militer dan ekonomi saat ini, Von der Leyen berargumen bahwa UE kini lebih dari sebelumnya harus membela nilai-nilai dan kepentingannya. Dia juga menyarankan agar kapasitas pertahanan diperkuat untuk merespons ancaman dari luar secara memadai. Isu pertahanan di negara-negara UE kebanyakan menjadi urusan para Menteri Pertahanan (NATO) dari 27 negara UE.
Dampak
Eskalsi terbaru perang di Timur Tengah telah menyebabkan kenaikan harga energi, yang berdampak langsung pada warga dan ekonomi Eropa. Von der Leyen berbicara tentang kebutuhan untuk menjamin pasokan energi Eropa dan mengurangi dampak instabilitas di wilayah tersebut.
Terakhir, von der Leyen memperingatkan bahwa era sistem aturan tunggal telah berlalu. UE harus menyesuaikan strateginya dengan realitas kompleks geopolitik masa kini agar tetap relevan dan operasional. Hal ini juga akan dia bahas minggu ini di Strasbourg dalam debat dengan para politisi UE di Parlemen Eropa.

